Media  

KTT G20 Tidak Boleh Gagal

Menlu Retno Marsudi memberikan keterangan pers usai penutupan Pertemuan Menlu G20 di Nusa Dua, 8 Juli 2022. (Foto: AFP/Dita Alangkara)

Tiga puluh dua hari lagi pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 akan dilaksanakan di Bali. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam jumpa pers, Kamis (13/10) menegaskan pelaksanaan KTT G20 tersebut tidak boleh gagal karena hasil kerja dari forum itu ditunggu oleh masyarakat dunia.

Taruhannya terlalu besar jika G20 gagal karena menyangkut nasib dan kesejahteraan milliaran penduduk dunia terutama di negara berkembang, tambahnya. Untuk itu Indonesia terus mengajak negara anggota G20 untuk menunjukan tanggung jawab kepada dunia.

“Keberhasilan G20 bukan ditangan satu atau dua negara tetapi berada di tangan seluruh anggota G20. Kalo kita ingin dikatakan sebagai negara besar maka tanggung jawabnya juga besar. Dan tanggung jawab itu harus ditunaikan dengan baik,” ungkap Retno.

Menlu Retno Marsudi memberikan keterangan pers usai penutupan Pertemuan Menlu G20 di Nusa Dua, 8 Juli 2022. (Foto: AFP/Dita Alangkara)

Menurut Retno, di masa sulit di mana dunia sedang menghadapi berbagai krisis, seperti pandemi COVID-19 yang belum tuntas, perang Ukraina, tensi geopolitik yang menajam dan juga krisis pangan, energi dan keuangan; G20 merupakan salah satu forum ekonomi dunia yang masih dapat bekerja merespon krisis global saat ini.

Indonesia, tambahnya, terus menjalin komunikasi dengan semua negara anggota G20 baik secara formal maupun informal. Indonesia optimistis G20 akan menghasilkan kerjasama konkret yang tidak saja berguna bagi anggotanya tetapi juga untuk dunia terutama negara-negara berkembang.

Retno mengatakan sebagai presidensi G20, Indonesia berusaha menggunakan inovasi atau cara-cara baru agar negosiasi tidak terhenti.

Mengenai konfirmasi kehadiran pemimpin dunia dalam KTT G20 pada 15-16 November mendatang, Retno mengatakan sejauh ini tidak ada respon negatif dari semua negara anggota G20.

Perang Rusia di Ukraina Tetap Jadi Faktor Penentu

Dihubungi VOA, pengamat hubungan internasional dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Nanto Sriyanto mengatakan perekonomian global tidak bisa dilepaskan dari saling dukung antara negara dengan beragam geografi dan karakter ekonomi.

Namun dengan adanya keterbelahan yang antara lain disebabkan oleh invasi Rusia ke Ukraina maka hal itu menjadi tantangan bagi presidensi Indonesia. Selaku presidensi G20, Indonesia harus menyadari bahwa persoalan Rusia dan Ukraina tidak bisa diselesaikan secara instan dan parsial.

“Hal itu kemudian menjadi tantangan untuk presidensi Indonesia untuk membuat apa yang menjadi persoalan di Eropa Timur itu tidak kemudian selesai pada persoalan isolasi tetapi persoalan koordinasi tanpa kemudian mengecilkan bahwa hal itu secara normatif berlawanan terhadap hukum internasional yang ada,” kata Nanto.

Sebagai presidensi G20, Indonesia dapat memberikan tawaran-tawaran kepada semua pihak untuk mendapatkan titik temu untuk kepentingan global. [fw/em]

Sumber: www.voaindonesia.com