Media  

Umar Patek Minta Maaf Kepada Korban Serangan Bali

Militan Indonesia Umar Patek (kanan), berjalan bersama teman lamanya Ali Fauzi, mantan militan yang kini menjalankan program deradikalisasi, di Lamongan, Jawa Timur, Indonesia, Selasa, 13 Desember 2022. (AP/Trisnadi)

Seorang Muslim militan yang dihukum karena membuat bom yang digunakan dalam serangan di Bali tahun 2002, Selasa (13/12), meminta maaf kepada keluarga korban setelah dibebaskan dari penjara meskipun ada keberatan dari Australia.

Hisyam bin Alizein, yang lebih dikenal dengan julukan Umar Patek, dibebaskan pekan lalu setelah menjalani sekitar setengah dari 20 tahun hukuman penjaranya.

Serangan itu menewaskan 202 orang, kebanyakan turis asing, termasuk 88 warga Australia.

Umar, 55, adalah anggota jaringan Jemaah Islamiyah yang terkait al-Qaida, yang dinyatakan bertanggung jawab atas ledakan bom di dua klub malam di Pantai Kuta.

Ia dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat karena membantu membuat bom mobil yang diledakkan oleh orang lain di luar Sari Club di Kuta pada malam 12 Oktober 2002.

Militan Indonesia Umar Patek (kanan), berjalan bersama teman lamanya Ali Fauzi, mantan militan yang kini menjalankan program deradikalisasi, di Lamongan, Jawa Timur, Indonesia, Selasa, 13 Desember 2022. (AP/Trisnadi)

Beberapa saat sebelumnya, sebuah bom yang lebih kecil dan ditempatkan di dalam ransel, diledakkan oleh seorang pelaku bom bunuh diri di kelab malam Paddy’s Pub di dekatnya.

“Saya meminta maaf kepada seluruh masyarakat Bali,” kata Umar kepada wartawan, seraya menambahkan: “Tidak hanya kepada masyarakat Bali tetapi juga kepada masyarakat Indonesia pada umumnya.”

“Saya juga meminta maaf kepada warga Australia yang juga merasakan dampak yang sangat besar dari kejahatan bom Bali,” kata Umar kepada wartawan saat mengunjungi mantan militan Ali Fauzi, teman lama yang menjalankan program deradikalisasi militan di desa Tenggulun, Jawa Timur.

Ia menyampaikan permintaan maafnya kepada semua orang yang terkena dampak pengeboman “apa pun kewarganegaraan mereka terlepas dari etnis dan agama mereka.”

Mengenakan kemeja abu-abu dan penutup kepala tradisional Jawa, Umar mendapat sambutan hangat dari teman-teman lamanya, beberapa di antaranya adalah mantan narapidana yang mengikuti program deradikalisasi yang dipimpin oleh Ali. Mereka saling berpelukan dengan penuh kehangatan.

Umar Patek saat berkunjung ke rumah teman lamanya Ali Fauzi, mantan militan yang kini menjalankan program deradikalisasi, di Lamongan, Jawa Timur, Indonesia, Selasa, 13 Desember 2022. (AP/Trisnadi)

Umar Patek saat berkunjung ke rumah teman lamanya Ali Fauzi, mantan militan yang kini menjalankan program deradikalisasi, di Lamongan, Jawa Timur, Indonesia, Selasa, 13 Desember 2022. (AP/Trisnadi)

Pihak berwenang Indonesia mengatakan Umar (55), berhasil direformasi di penjara dan mereka akan menggunakannya untuk memengaruhi militan lain agar menjauh dari terorisme.

Umar menerima serangkaian pengurangan hukuman, yang sering diberikan kepada narapidana pada hari libur besar karena berperilaku baik.

Baru-baru ini, ia diberikan pengurangan lima bulan pada peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Pihak berwenang masih memantau Umar dan ia harus mengikuti program pendampingan hingga pembebasan bersyaratnya berakhir pada 29 April 2030. [ab/uh]

Sumber: www.voaindonesia.com